Catatan Tri Hidayatno

Global Issue, Teknik Kimia, Lingkungan, Energi dan Apa adanya

Catatan awal tahun 2011

Tahun lalu sungguh luar biasa, karena banyak hal baru terjadi, diantaranya:
  1. Menjadi pembicara di Rapat Dengar Pendapat dengan DPR RI tentang Undang-undang Energi terbarukan pada bulan Januari
  2. Menjadi pembicara di workshop yang diselenggarakan oleh perusahaan multinasional di Bangkok Thailand pada awal November
  3. Menjadi organizer untuk event workshop di Institusi beken di Singapore, dengan mengundang pakar-pakar teknologi Plasma dan Electron Beam dari Jerman di akhir November
  4. Menjadi pembicara di Forum Internasional di Indonesia untuk memaparkan tentang skema Insentif negara Jerman dalam mengembangkan energi terbarukan pada awal Desember

Untuk tahun kedepan, semoga ada lompatan dahsyat dalam beberapa hal…..

Happy New Year!!!!

Januari 5, 2011 Posted by | Energi, Lingkungan, Politik, Teknik Kimia | , , | 1 Komentar

The Potential of White Biotechnology: BREW Project

BREW Project adalah sebuah studi yang menyelidiki tentang peluang dan resiko jangka panjang dari suatu produksi bahan kimia organik melaui proses bioteknologi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai hal teknis, ekonomis dan kelangsungan dari White Biotechnology pada dekade mendatang. 

Pertanyaan kuncinya adalah 1) produk yang mana yang dapat dibuat dengan proses White Biotechnology, 2) apakah produk-produk ini dapat berkontribusi dalam penghematan energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca, 3) resiko apa yang mungkin berasal dari penggunaan organsisme hasil rekayasa genetika dalam fermentasi dan 4)apakah persepsi Masyarakat tentang hal ini. 

Sedangkan ruang lingkup yang masuk dalam kajian BREW Project adalah pada proses-poses yang menggunakan White Biotechnology (konversi dengan fermentasi atau enzymatic), umpan (feedstock) yang berasal bahan-bahan terbarukan, produk skala besar (bulk) dan State-of-the-art pengembangan teknologi dalam waktu 2-3 dekade mendatang. 

White biotechnology, penggunaan prinsip-prinsip bioteknologi pada produksi skala industri, sedang mendapat momentum yang bagus di Uni Eropa. Secara umum diharapkan bahwa white biotechnology dapat berkontribusi untuk menguasai beberapa tantangan sosial yaitu:

  • Berkontribusi pada persaingan internasional dari Industri Kimia Uni Eropa melalui inovasi produk dan proses dan teknologi yang memimpin
  • Menghemat sumberdaya dan mengurangi dampak lingkungam dari industri kimia melalui “penghijauan” industri kimia
  • Mengekploitasi biomasa sebagai bahan baku untuk produksi bahan kimia dan energi

Bioteknologi telah lama mengambil peran dalam produksi obat-obatan, fine chemicals dan specialty chemicals dan diharapkan bioteknologi dapat diperluas diluar sektor-sektor itu dalam jangka pendek dan menengah. Namun terdapat banyak ketidakpastian mengenai kapan, bagaimana dan sejauh bioteknologi yang juga akan memainkan peran dalam produksi massal bahan kimia (bulk chemicals). Ini adalah tujuan dari proyek BREW untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara komprehensif, dengan mempertimbangkan perkembangan ilmiah-teknis maupun aspek ekonomi, dampak lingkungan dan sosial. 

Berdasarkan survei literatur telah dikembangkan ikhtisar mengenai bahan kimia yang dapat diproduksi melalui proses white biotechnology. Ini juga diketemukan bahwa beberapa bahan kimia berbasis bio telah diproduksi dalam skala massal pada masa saat ini, yang mana sangat bertentangan dengan catatan yang beredar luas bahwa bioteknologi tidak cocok untuk produksi bahan kimia secara masal. Meskipun, kebanyakan produk yang dipaparkan masih terhitung dalam jumlah yang kecil dari total produksi bahan-bahan kimia; dan penggunaan utama bahan ini (yang diproduksi dalam jumlah lebih dari 200 kiloton/tahun) adalah digunakan pada sektor makanan, pakan dan bahan bakar, bukan pada bahan kimia.

Chemical Product

Pic 1. Bahan kimia yang dapat diproduksi melalui proses white biotechnology.

Biobased chemical

Tabel 1. Bio-based chemicals produced on bulk scale (> 20 kt/a) already today

Kemudian dari studi literatur tentang bahan-bahan pada gambar dan tabel diatas, dibuat suatu strategi untuk memilih beberapa bahan kimia yang potensial berdasarkan building block-nya dengan 2 pertimbangan strategis sebagai berikut:

  • Bahan kimia yang sebagai pengganti langsung bahan-bahan yang berbasiskan petrokimia.
  • Bahan kimia yang memliki fungsi similar dengan yang berbahan dasar fosil 

Dari kedua pertimbangan diatas terpilihlah 21 bahan kimia. Sebagai contoh, PTT yang dibuat dari bio-PDO dapat menggantikan PTT yang dibuat dari petro-PDO, namun bio-PDO pun akan bisa menggantikan PET atau polimer nylon, tergantung pada aplikasinya. Ketika mengkategorikan 21 bahan kimia menurut fase pengembangannya, BREW Project menemukan bahwa semua fase telah terwakilkan (ide, kelayakan, skala pilot dan komersialisasi). 

Bahan-bahan kimia yang dijadikan obyek studi diantaranya adalah: Acetic acid, Acetone/Butanol/Ethanol, Acrylamide, Acrylic acid, Adipic acid, Caprolactam, Citric acid, Ethanol, Lactic acid, Lysine, Mono-/Diglycerides, Oleyl oleate, Polyglycerol monoester, Polyhydroxyalkanoates, 1,3-Propanediol dan Succinic acid 

Saat ini, umpan yang potensial untuk sampai skala komersialisasi masih didominasi oleh gugus gula yaitu glukosa, sukrosa dan pati. Namun suatu saat nanti umpan berbasis lignoselulosa yang difermentasi akan bisa menghasilkan glukosa, xylosa dan arabinosa. Mengingat semakin banyaknya gliserol sebagai produk samping produksi biodiesel, gliserol juga memungkinkan sebagai umpan proses fermentasi. Yang terakhir, selain dari penggunaan umpan menggunakan bahan tersebut, White Biotechnology dapat juga menggunakan umpan hasil dari rekayasa tanaman (Green Biotechnology) jika dapat mempunyai sifat-sifat yang lebih baik, lebih murah atau memiliki keuntungan lain. 

Sampai saat ini, gula masih menjadi pilihan utama sumber umpan dari proses white biotechnology. Dengan menggunakan BREWTool, dibuatlah suatu skenario tentang produk turunan gula apakah yang masih layak secara ekonomis dan teknis pada harga gula yang berbeda-beda. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table 2 dibawah.
Sugar Price vs Bioproduct

Terlihat dari table diatas bahwa produk-produk tersebut akan menarik diproduksi pada harga gula berkisar 70 – 400 EU/ton. Studi ini menggunakan asumsi harga minyak mentah saat itu pada $25/barel. 

Berdasarkan studi BREW, sekarang negara-negara Eropa sedang giat mengembangkan berbagai proyek untuk menghasilkan produk-produk berbasiskan bio dengan memberikan subsidi kepada Lembaga Penelitian dan Industri yang bekerjasama dalam tahap pengembangan. 

Karena keterbatasan Eropa akan lahan dan sumber daya terbarukan di Eropa, berbagai konsorsium internation juga dibentuk, salah satunya adalah proyek ““High value-added products for the coating and plastics industry from byprod-ucts of biodiesel production by industrial white biotechnology processes”. Proyek ini merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan Jerman untuk mengembangkan bahan kimia baru dari produk samping produksi biodiesel (gliserol) untuk aplikasi di industri coating dan plastik.

Proyek yang dimotori oleh Fraunhofer (www.fraunhofer.de) ditargetkan selesai selama 3 tahun dan menghasilkan teknologi yang siap untuk dikembangkan pada skala komersial. Partner Indonesia yang terlibat dalam proyek ini adalah: BPPT, LIPI dan PT Sumi Asih. Sedangkan dari pihak Jerman adalah Fraunhofer, VTi, BMA, Synthopol dan GLYCTEC.

 

*)Artikel ini dterbitkan untuk Majalah Infokimia, edisi Oktober 2009.

Oktober 21, 2009 Posted by | Energi, Lingkungan, Teknik Kimia | , , | 1 Komentar

π (Pi) ternyata bukan 22 per 7

Mati penasaran ala Matematikawan

Bulan lalu pas malam minggu habis melihat tayangan TV malah kepikiran tentang angka π yang jaman dulu katanya 22/7. Tapi apa iya kalo π itu sama persis dengan 22/7?

Untuk lebih jelas dan mudahnya menjawab rasa penasaran, saya unduh software kalkulator ringan disini. Lalu saya coba untuk meminta tentang harga/nilai dari pi. Berikut screen shootnya:

 New Picture

Pertama saya klik cnst yang berarti konstanta atau nilai tetap. Lalu saya pilih Pi…

New Picture (1)

Setelah itu akhirnya keluar angka ……

New Picture (2)

Itulah jawabannya, ternyata pi adalah 3,1415926536….(kalkulator ini hanya punya nilai 10 angka dibelakang koma).

Untuk mengetahui apakah itu 22/7 atau bukan, ya mudah saja. Tinggal ambil kalkulator lagi, pencet 22, lalu pencet ÷ (bagi), pencet 7, pencet = (sama dengan), dan hasilnya adalah….

New Picture 4

ternyata 22 : 7 = 3.1428571429…..

Kesimpulan dari kalkulator saya diatas menunjukkan dengan sangat valid bahwa:

Pi = 3,1415926536     sedangkan 22/7= 3.1428571429

Sehingga Pi ≠ 22/7 (Pi bukan 22/7)

Darimanakah angka itu berasal? Waduh susah sekali, makanya ayo kita utak-atik bareng-bareng!

Malu bertanya sesat dijalan, terlalu banyak bertanya jan goblok tenan!

Juli 27, 2009 Posted by | Matematika, Sains | , | 4 Komentar

Hukum Newton 1, 2 apa 3?

Berawal dari guyon maton dan waton di FB sini, gojekan sama teman-teman, ternyata punya ide nambah catatan di WP sini, biar bisa diakses seluruh handai taulan, saudara, adik kakak yang sedang/pernah/lulus SMA . Apalagi kalau lulusan IPA. Kalo tidak mampu menjawab, ya mesti diragukan kelulusannya. Atau mungkin juga untuk guru-gurunya juga. Lumayan untuk mengasah kembali ingatan tentang ilmu dasar.

Berikut catatan saya:

Iki pertanyaan kelas teri, kelas SMA kelas 1.

Sebuah benda bergerak mendatar (asumsi bumi datar) dengan kecepatan tetap 60 km/jam sejauh 200 meter. Massa benda itu 5 kg.

Pertanyaan: Berapa energi yang dibutuhkan?

Penyelesaian
W=F.s=(m.a).s
Kecepatan tetap maka a=0
maka W=0…lho?????
W=1/2 .(m.v^2)=0,5 . 5 kg . (60 km/jam)^2

Lho, kok gak ada unsur s (jarak tempuh)? Berarti mau jalan 1000 km pun, energi yang dibutuhkan sama ya???

Wis rasah dipikir, wong cuma guyon, rasah didiskusikan!

 

Berikut hasil diskusi santai dengan kawan dagelan saya (mohon maaf karena bahasa yang dipakai bahasa sehari-hari) :

  1. Sulistia Didit Wahyudi at 9:32pm June 18
    yo dadi guyon tenan jo..soale friksi benda dan bumi ora diperhitungkan. hambatan angin juga ora. le iso mlaku rak ming mergo hukum kelembaman… modyar, pecas ndahe,hahahaha
  2. Tri Hidayatno at 9:44pm June 18
    Yoh, saiki benda bergerak pada bidang licin. Dan tidak ada angin babar blas. Sing dinggo rumus yang mana? 
  3. Wawan Budi at 5:49am June 19
    Energinya sebenarnya kl naik XENIA butuh 0.02 liter bensin om. Kl naik SUPRA X butuh 0.005 liter bensin.
  4. Sulistia Didit Wahyudi at 7:45am June 19
    opo meneh jaran dab,ming butuh suket sakkranjang
  5. Eko Ariyanto at 8:09am June 19
    ga onoo angin iseh ono hambatan udara jo..bidang licin pun masih punya koef gesek..bedo nek malkune neng ruang hampa 100% ga ada gravitasi dll….plus kowe ojo ngentut…nek ngentut yo tambahh banter jo…..po meneh entutmu kan banter…wakakaaka
  6. Tri Hidayatno at 10:26am June 19
    Yowis, pertanyaan berkembang lagi, bagaimana jika berjalan di ruang hampa? 100% gak ada gravitasi??
    Rumus mana yang dipake?
  7. Eko Ariyanto at 10:48am June 19
    rumus pertama untuk menentukan energi yg dibutuhkan untuk bergerak….nek percepatan 0(kecepatan konstan)..berarti emg ga ada energi/usaha yg dibutuhkan,yg dibthkan cm energi dari kec 0 sampai 60 iku setelah konstan 60 ga dibutuhkan energi….rumus kedua iku menunjukkan energi kinetik yg dipunya/dikandung saat kamu bergerak..bukan yg dibutuhkan..iku hubungane dgn konversi energi..misale pas nabrak atau yg laen
  8. Tri Hidayatno at 10:54am June 19
    Yes, ini baru Lulusan Janabadra…cocok!
    Thek, ruang hampa udara kui tekanane pirang bar?
  9. Eko Ariyanto at 11:02am June 19
    kkk….nah iku saiki soale…referensi 0 absolute secara nyata iku setauku blom ada je…0 bar absolute iku blom ada simulasine..onone 0 bar gauge yg dianggap 1 bar absolute(bar opo atm yo aku agak lupa..tp konversine ga jauh kok 1 karo 0,9)…ruang angkasa pun aku ga yakin hampa absolute
  10. Eko Ariyanto at 11:03am June 19
    nek hampa absolute yo kudune 0 bar absolute jo tekanane
  11. Tri Hidayatno at 11:20am June 19
    Terus suhune piro? nek 0 bar absolut
  12. Tri Hidayatno at 11:22am June 19
    Wawan gur ndomblong karo mrongos
  13. Eko Ariyanto at 2:02pm June 19
    iki koyo ujian sma wae….btw adiku lulus dab…..bijine matmatika 9.5..gilaaa..aku dewe ra percoyo..tak takoni oleh bocoran ra ngomonge ora..tapi kerjasama karo koncone..tp biologine 5…
  14. Tri Hidayatno at 2:43pm June 19
    Iki pelajaran SMA, tapi nek nganti iso njawab do tak sembah! Nek tekanan 0, suhu yo 0 absoluth, itu artinya Nitrogen membeku. Artinya, ini di Era Pra Bigbang. Modar!!!
    Adimu cen pinter kok thek.
  15. Eko Ariyanto at 3:53pm June 19
    loh..nek suhu dan tekanan sgt hanya pada satu sistem kecil kan ga harus era pra bigbang jo….masalahe sopo seng iso gawe sistem spt itu…eh emg titik beku nitrogen pada 0 tekanan 0 absolut kisuhu 0 abs(mendekati.. 0 kelvin?)?
  16. Tri Hidayatno at 7:36pm June 19
    Iyo thek, pada 0 Kelvin, semuanya pada keadaan unsur2 paling stabilnya, entropinya juga 0. (Wawan tambah mrongos)
  17. Tri Hidayatno at 7:43pm June 19
    Maksude: mendinginkan sampai mendekati 0 absoluth ra mungkin, terus refigerane opo?
    Kesimpulan: ojo2 ruang hampa tekanane ora 0. Nek bener ruang hampa 0, berarti percepatan 0 gak pernah ada.

Selamat mumet bagi yang pinter! Kalo yang IQ Rendah pasti gak mumet, wong gak paham sama sekali.

Orang Jerman dan Jepang yang mampu menjawab pertanyaan ini sekitar 30% dari jumlah penduduk. Untuk penduduk Indonesia, kemungkinan hanya 1% saja. Jadi ya kalo ditanya kenapa negara tertinggal? Akui saja kalo kita lebih bodoh, sudah bodoh malas lagi, sudah malas anarkis lagi, sudah anarkis, narsis lagi…….Guyooon!

Juli 11, 2009 Posted by | Apa adanya, Joke, Sains | , , | 2 Komentar

Menyongsong Era Ekonomi Kerakyatan

Kata Pak Jend. Purn AM Hendro Priyono setelah seminar Ideologi Pancasila Sabtu kemarin di UGM (30 Mei 2009),  bahwa 3 pasang capres kesemuanya akan melaksanakan agenda ekonomi kerakyatan. Ini berarti siapapun pemenangnya, akan melaksanakan agenda-agenda ekonomi kerakyatan.

Dimanakah posisi profesional di Era Ekonomi Kerakyatan yang akan kita songsong pada era-era mendatang?

Kalau dari Iklan-Iklan salah satu calon, Ekonomi Kerakyatan akan menfokuskan pada penguatan Industri Kecil Menengah, Pertanian, Nelayan dan sektor infomal lainnya. Ini berarti sektor-sektor formal seperti manufacturing akan cenderung dibiarkan dan tidak mendapat dukungan lebih.

Apa yang terjadi dengan industri besar agro, otomotif, petrokimia, minyak, gas, Fast Moving Consumer Good, elektronik, Tekstil dan Produk Tekstil (TPT), alas kaki dsb?

Apakah akan ada nasionalisasi besar-besaran seprti ketika Bung Karno menasionalisasi Unilever, British American Tobacco/BAT (dua perusahaan ini sudah dikembalikan) dan juga Rajawali Nusantara Group (perusahaan ini masih BUMN)??

Jika memang Perusahaan Minyak Asing akan menjadi berbendera merah putih, apakah karyawan mereka siap dengan fasilitas standar perusahaan minyak BUMN? Apakah perusahaan mie instan akan distop mesin produksinya dan diganti dengan tenaga rakyat untuk mlintiri gandum supaya kriting-kriting? Apakah perusahaan raksasa perkebunan akan diserahkan ke PTPN semuanya?

Jika memang itu terjadi, tak dapat saya bayangkan nasib para insinyur profesional, dimana dari mengurus proyek besar sekali tiap tahun, berubah menjadi proyek kecil2 tapi banyak. Tentunya ini akan menurunkan kompetensi keprofesionalannya. Sulit juga membayangkan karyawan-karyawan perusahaan minyak multinasional yang biasa hidup dengan standar tinggi, harus rela turun derajat. Sulit juga membayangkan perusahaan manufaktur sepatu, elektronik, otomotif yang sudah menerapkan 5S, Kaizen, Six Sigma, Total Quality Management, Toyota Production System dsb kemudian dipecah-pecah menjadi IKM yang kerja hanya singletan & sandal jepitan sambil ngrokok kretek.

So, era ekonomi kerakyatan tampaknya kurang pantas untuk para profesional, semoga nanti yang menang tetap menghormati pemodal untuk menanamkan investasi di Indonesia. Dan semoga bayangan saya terhadap ekonomi kerakyatan salah.

Mei 31, 2009 Posted by | Apa adanya, Global Issue, Politik | , , , , , , , | 1 Komentar

Penguapan air part 2

Kali ini saya lanjutkan catatan tentang penguapan air sekaligus belajar Ilmu Fisika lanjutan. Waktu kita masih SMP ataupun SD, kta selalu diajari tentang perubahan wujud dan diantaranya perubahan wujud cair ke gas yang disebut sebagai “pendidihan” sebagai lawan kata dari pengembunan.

Karena informasi tentang penguapan belum banyak diberikan, saya beri penjelasan sebagai berikut: 

Penguapan air

Penguapan hanya terjadi di antarmuka/interface antara cairan dan udara, sedang mendidih adalah penguapan yg terjadi di setiap bagian molekul cairan. Dalam setiap pendidihan, selalu terjadi penguapan, tetapi dalam penguapan belum tentu mendidih, jadi mendidih adalah bagian dari penguapan.

Pertanyaan lagi, kenapa terjadi penguapan di interface antara cairan dan udara??

  • Kadar air di udara (kelembaban). Di dalam udara yang kita hirup selalu ada air dalam bentuk gas (uap air). Jumlah uap air di udara berbeda-beda, inilah yang disebut kelembaban udara. Jika kelembaban udara rendah, dimana kadar air di udara rendah, maka akan terjadi perpindahan massa di interface-nya. Perpindahan ini dipicu akibat terjadi perbedaan kadar air di permukaan cairan dan di permukaan. Pemicu terjadinya perpindahan massa ini adalah perbedaan konsentrasi uap air (di lapisan cairan : sangat kaya uap air, dilapisan udara : sangat miskin uap air, jika udara sudah sangat kaya akan uap air ini dinamakan kondisi jenuh atau saturated).

Di dalam Fisika kita tentu mengetahui adanya hal pemicu terjadinya perpindahan. Seperti perbedaan ketinggian yang menyebabkan aliran air dari atas kebawah, aliran angin disebabkan karena perbedaan tekanan udara. Hal ini dinamakan sebagai Driving Force, seperti juga uang mampu menarik warga dari segala daerah ke Jakarta.

  • Suhu dan Tekanan Udara. Suhu dan Tekanan udara mempengaruhi kelembabannya, jika tekanan makin tinggi tentu kelembaban makin rendah (berbanding terbalik). Jika Suhu tinggi maka kelembaban tinggi (berbanding lurus).
  • Suhu air. Jika suhu air makin tinggi maka pergerakan molekul dalam air akan semakin cepat dan terjadi tumbukan antar molekul, sehingga akan semakin mempercepat proses perpindahan massa dari cairan ke gas (berbanding lurus).

Kelembaban Udara

Air akan menguap sehingga kadar uap air di udara naik (kelembaban naik) sampai mencapai titik jenuhnya. Apa yang terjadi jika sudah mencapai titik jenuh???? Pengembunan.

Relative_Humidity

Catatan sebelumnya: Penguapan air part 1

Mei 29, 2009 Posted by | air, Energi, penguapan, Teknik Kimia | , , , | 12 Komentar

Penguapan Air

Berdasarkan pengalaman seorang kenalan saya di milis Kampung-UGM yang melakukan wawancara ke lulusan Teknik Mesin di salah satu Universitas ternama, liputannya ada disini.

Waktu itu beliau meminta para warga milis untuk memberikan ide apa untuk wawancara tersebut, dan saya punya ide bikin pertanyaan dibawah:

Tanyain suhu air menguap pada tekanan atmosfer mas. Banyak lulusan teknik mesin UGM yang nggak bisa njawab tuh”, begitu titipannya.

Eh … bener, ketika kutanyakan nggak ada yang bisa njawab tuh.Lucunya, aku sendiri sebenarnya juga nggak bisa njawab, begitu juga bank Al, yang kukenal pintar, ternyata katanya juga nggak bisa njawab.

Jadi masalahnya, apa pertanyaannya yang terlalu sulit ya?Jangan-jangan malah anak SMP yang bisa njawab.

Sebenarnya saya ingat pertanyaan ini berdasarkan keseringan saya ngobrol dengan anak-anak Mesin pas weekend, karena dulu pernah satu kos dengan 6 orang lulusan mesin. Kebetulan kawan-kawan akrab saya tersebut agak kesulitan menjawab pertanyaan itu.

Saya maklum dengan itu, karena dulu sejarahnya Teknik Kimia diciptkakan oleh beberapa Profesor Teknik Mesin yang bingung untuk mengetahui fenomena didalam suatu alat (reaktor, bejana, heat exchanger dll.). Lalu seiring dengan perkembangan, ilmu itu malah menjadi disiplin tersendiri yang pada akhirnya tidak begitu diperhatikan lagi oleh Insinyur Mesin itu sendiri.

Sebenarnya jawaban dari perntanyaan itu gampang saja kalau sudah tahu, yaitu:

Pada keadaan dimana kelembaban udara rendah, air akan menguap di suhu berapapun, sebelum mencapai titik didihnya

Kebanyakan orang akan menjawab 100 derajat celcius jika ditanya berapa suhu air menguap, padahal itu adalah suhu air mendidih. Terus kenapa air kok bisa menguap mas?

Walah, kok susah-susah begini, mbok mending cari jawabannya sendiri, karena berdasarkan kata pepatah:

“Malu bertanya sesat di jalan, terlalu banyak bertanya jan goblok tenan”

Februari 17, 2009 Posted by | air, Energi, Teknik Kimia | , , , | 17 Komentar

Thermodynamics of Global Warming

Semakin besar energi yang dilepaskan, semakin mengarah kepada kekacauan sistem

“Ini adalah salah satu penjabaran hukum entropi”

Badai katrina, topan tornado, dll itu adalah contoh suatu fenomena kekacauan alam semesta ini. Lho kok bisa? Apa hubungannya dengan Entropi?

“Entropi adalah ukuran ketidaktreraturan sistem: Suatu sistem dengan cara tersusun ekivalen komponennya sedikit seperti kristal padat memiliki ketidakteraturan yang kecil atau entropi rendah. Sedangkan sistem dengan cara tersusun ekivalen komponennya banyak seperti gas memiliki ketidakteraturan besar atau entropi tinggi”

Maksudnya gini, padatan itu derajat ketidakteraturannya rendah, sedangkan gas ketidakteraturannya tinggi. Dengan metode interpolasi, maka cairan mempunyai derajat ketidakteraturan diantarnya.

Hubungan Entropi dengan Global Warming dan Badai Topan Macem2

Dari dalil diatas dapat kita simpulkan, bahwa proses konvesi zat menuju sistem dengan ketidakteraturan lebih tinggi (padat ke cair, padat ke gas, cair ke gas) akan meningkatkan entropi suatu sistem. Namanya aja meningkatkan ketidakteraturan mankanya akan semakin semrawut, ribut, acak adul dan sakpanunggalane.

Proses pembakaran merupakan proses yang sangat signifikan menaikkan angka entropi di sistem kita (“Bumi yang di selubungi atmosfir kita anggap sebagi sistem) karena disitu terjadi konvesi kimia dari padatan ke gas CO2 (batubara, kayu) dan cairan (minyak) ke gas CO2.

Walaupun CO2 akan terkonversi menjadi padatan lagi (ini proses kebalikannya, yang menurunkan entropi) melalui proses fotosintesa, tetapi secara agregat entropi meningkat atau dengan kata lain jumlah gas CO2 semakin meningkat.

Sekian pandangan Global Warming dari kaca mata Chemical Engineer.

November 19, 2008 Posted by | Energi, Global Issue, Lingkungan | , , , , | 2 Komentar

Natural Selection, The winner is the most adaptable

Kepunahan Manusia…….Dunia dikuasai kecoak alias Coro!!

Di tulisan saya sebelumnya saya menyinggung soal ini, bahwa di alam ini ada yang namanya seleksi alamiah. Sejarah yang membuktikan bahwa makhluk-makhluk kuat seperti dinosaurus mengalami kepunahan akibat tidak mampu menyesuaikan diri. Tapi akhirnya, bagaimana manusia bisa menjadi penguasa dunia sampai saat ini? Manusia adalah makhluk terpintar sejauh yang saya tahu, tapi menurut sayapun, manusia juga mungkin/bisa juga akan punah.

Kapan kita punah? Ojo wedi dhisik para pembaca, seperti tulisan yang pertama, “nothing’s impossible” jarene!

Di buku sejarah 5000 tahun lagi akan ditemukan fosil makhluk berjalan tegak dan berjempol besar (karena menjadi organ paling vital untuk SMS). Ditemukan juga fosil manusia dengan telapak tangan yang menempel di dahi karena pas hidup suka banget bilang “capek deh…”.

Film 12 Monkeys (Bruce Willis, Bradd Pitt) sangat mempengaruhi pikiranku tentang siapa yang akan menjadi penguasa dunia kalau manusia punah. Di Film itu diceritakan tentang suatu konspirasi internasional (12 Monkeys) untuk menghancurkan manusia dengan senjata biokimia semacam virus. Wadah Virus (tube) yang dibawa Bradd Pitt yang harusnya gak disebar ternyata malah jatuh dan hancur dan virus jadi tersebar. Dan di saat yang lain, Bruce Willis terlempar ke masa depan dan mendapati kecoa-kecoa yang sudah tumbuh besar dan bermutasi.

Di film itu tidak banyak dialog, jadi buat yang IQnya dibawah rata-rata dijamin pusing deh nonton film ini. Ternyata eh ternyata, kecoak mampu hidup di tempat kotor dan bersih, memiliki sifat khusus sehingga mencerna racun. Dan bahkan, kecowak bisa hidup di limbah nuklir. Walaupun, kita injak pake sandal aja langsung mati.

Contoh-contoh kejadian di dunia yang saya curigai sebagai salah satu bagian seleksi alamiah yang terjadi sekarang:

1. Manusia cenderung memilih pasangan yang dirasa terbaik, sehingga susah banget cari jodoh kalo wajah dan duit  pas-pasan kaya gini. Udah gitu penakut lagi, takut nembak, takut jatuh cinta, dsb. Walaupun sebenarnya takut disuruh nraktir pecel lele, soalnya kuatnya cuma angkringan.
2. Orang yang tidak bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan (kerja, teman, kelompok, atau bangsa) akan terdepak dan mati muda. Film “GIE” adalah contoh kasus anak muda yang kalah dengan seleksi alam. Lihat bagaimana sepak terjangnya di UI yang akhirnya jadi membenci kampus sendiri. “Ngono yo ngono, tapi mbok ojo ngono ” kandane wong jowo.

Udah dulu contohnya, ada film “Return to the Blue Lagoon” nih! Mau nonton Brooke Shields renang contoh kasus seleksi alam juga!!

Film Hollywood pun ada hikmah didalamnya, sampaikanlah walau satu scene saja!

Kalau ada yang berminat atau membutuhkan ide film, skript, naskah tentang Sci-Fi (siapa tahu ada insan film yang baca) bisa kontak langsung. Agak bosan juga nih dengan tema film Indonesia, saya curiga insan film kita gak bisa buat film yang harus pake mikir susah2 kaya rumus x kuadrat, soalnya kebanyakan dari background non eksakta. Insya allah box office deh!

Februari 22, 2008 Posted by | Global Issue, Lingkungan, Uncategorized | , , , | 10 Komentar

Life is bitter … so we need sweet coffee

Di Indonesia, hidup sudah begitu pahit, makanya kita butuh secangkir kopi manis

Piye ora pahit? Wong kedelai, gandum, jagung (bibitnya) harus impor dari Amerika. Bagaimana gak berat? Kalau teknologi masih ketinggalan.

Saya pernah ditanya oleh kolega dari Eropa, kenapa kok kamu suka sekali menambahkan banyak gula ke kopimu? Menurut mereka, kopi itu minuman pahit, dan mereka sangat menikmati minuman pahit tersebut. Kalau butuh minuman manis, kenapa gak langsung minum syrup saja?

Begini mas bule, panjenengan belum pernah merasakan hidup disini kok!! Dari pelajaran sejarah waktu sekolah dulu, kita dijajah Eropa selama 300 an tahun (Gak semua daerah tentunya), lalu datang Jepang, terus perang lagi dengan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Beda dengan negeri sampeyan, pasti buku sejarah Anda penuh dengan kisah sukses menduduki  Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Sangat pahit hidup disini…….

Untuk sejenak melepaskan beban hidup yang berat, kopi manis merupakan salah satu minuman yang tepat untuk kemudian kerja keras lagi.  Terus kenapa hari gini hidup masih pahit? ….. Negara agraris kok masih impor terigu dan kedelai?

Sebenarnya impor gak apa2 asal harganya murah, karena masih bisa dimungkinkan terjadi surplus perdagangan karena kita meng-ekspor kopi, coklat, sawit, rempah2 (yang saya sebutkan ini tidak akan tumbuh di Cina, India, Eropa, US). Terigu dan kedelai menjadi mahal karena faktor beralihnya lahan ke Jagung untuk bioethanol, dan juga permintaan kedelai dari Eropa untuk biodiesel. Jika sudah begini keadaannya ada langkah yang bisa dilakukan dengan:

1. Jangan pernah kecanduan salah satu makanan saja, karena menurut Teori Darwin, “Yang akan bertahan hidup adalah yang mampu menyesuaikan diri, bukan yang terkuat, bukan yang terpandai”, dan edukasikan ini ke masyarakat.

2. Naikkan harga ekspor sawit, kopi, dan coklat.

3. Kuasai teknologi bibit unggul secepat mungkin. Apa guna government mendirikan perguruan tinggi pertanian di Bogor itu, yang katanya alumninya malah banyak jadi pegawai Bank atau marketing.

Tapi aku yakin, masyarakat miskin desa akan lebih tabah dari yang dikota. Karena masih bisa makan dengan memetik hasil dari kebun belakang rumah. (termasuk orang tuaku)

Januari 27, 2008 Posted by | Global Issue | | 5 Komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.