Catatan Tri Hidayatno

Global Issue, Teknik Kimia, Lingkungan, Energi dan Apa adanya

The Potential of White Biotechnology: BREW Project

BREW Project adalah sebuah studi yang menyelidiki tentang peluang dan resiko jangka panjang dari suatu produksi bahan kimia organik melaui proses bioteknologi. Tujuan dari studi ini adalah untuk mendapatkan pemahaman yang lebih baik mengenai hal teknis, ekonomis dan kelangsungan dari White Biotechnology pada dekade mendatang. 

Pertanyaan kuncinya adalah 1) produk yang mana yang dapat dibuat dengan proses White Biotechnology, 2) apakah produk-produk ini dapat berkontribusi dalam penghematan energi dan pengurangan emisi gas rumah kaca, 3) resiko apa yang mungkin berasal dari penggunaan organsisme hasil rekayasa genetika dalam fermentasi dan 4)apakah persepsi Masyarakat tentang hal ini. 

Sedangkan ruang lingkup yang masuk dalam kajian BREW Project adalah pada proses-poses yang menggunakan White Biotechnology (konversi dengan fermentasi atau enzymatic), umpan (feedstock) yang berasal bahan-bahan terbarukan, produk skala besar (bulk) dan State-of-the-art pengembangan teknologi dalam waktu 2-3 dekade mendatang. 

White biotechnology, penggunaan prinsip-prinsip bioteknologi pada produksi skala industri, sedang mendapat momentum yang bagus di Uni Eropa. Secara umum diharapkan bahwa white biotechnology dapat berkontribusi untuk menguasai beberapa tantangan sosial yaitu:

  • Berkontribusi pada persaingan internasional dari Industri Kimia Uni Eropa melalui inovasi produk dan proses dan teknologi yang memimpin
  • Menghemat sumberdaya dan mengurangi dampak lingkungam dari industri kimia melalui “penghijauan” industri kimia
  • Mengekploitasi biomasa sebagai bahan baku untuk produksi bahan kimia dan energi

Bioteknologi telah lama mengambil peran dalam produksi obat-obatan, fine chemicals dan specialty chemicals dan diharapkan bioteknologi dapat diperluas diluar sektor-sektor itu dalam jangka pendek dan menengah. Namun terdapat banyak ketidakpastian mengenai kapan, bagaimana dan sejauh bioteknologi yang juga akan memainkan peran dalam produksi massal bahan kimia (bulk chemicals). Ini adalah tujuan dari proyek BREW untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan ini secara komprehensif, dengan mempertimbangkan perkembangan ilmiah-teknis maupun aspek ekonomi, dampak lingkungan dan sosial. 

Berdasarkan survei literatur telah dikembangkan ikhtisar mengenai bahan kimia yang dapat diproduksi melalui proses white biotechnology. Ini juga diketemukan bahwa beberapa bahan kimia berbasis bio telah diproduksi dalam skala massal pada masa saat ini, yang mana sangat bertentangan dengan catatan yang beredar luas bahwa bioteknologi tidak cocok untuk produksi bahan kimia secara masal. Meskipun, kebanyakan produk yang dipaparkan masih terhitung dalam jumlah yang kecil dari total produksi bahan-bahan kimia; dan penggunaan utama bahan ini (yang diproduksi dalam jumlah lebih dari 200 kiloton/tahun) adalah digunakan pada sektor makanan, pakan dan bahan bakar, bukan pada bahan kimia.

Chemical Product

Pic 1. Bahan kimia yang dapat diproduksi melalui proses white biotechnology.

Biobased chemical

Tabel 1. Bio-based chemicals produced on bulk scale (> 20 kt/a) already today

Kemudian dari studi literatur tentang bahan-bahan pada gambar dan tabel diatas, dibuat suatu strategi untuk memilih beberapa bahan kimia yang potensial berdasarkan building block-nya dengan 2 pertimbangan strategis sebagai berikut:

  • Bahan kimia yang sebagai pengganti langsung bahan-bahan yang berbasiskan petrokimia.
  • Bahan kimia yang memliki fungsi similar dengan yang berbahan dasar fosil 

Dari kedua pertimbangan diatas terpilihlah 21 bahan kimia. Sebagai contoh, PTT yang dibuat dari bio-PDO dapat menggantikan PTT yang dibuat dari petro-PDO, namun bio-PDO pun akan bisa menggantikan PET atau polimer nylon, tergantung pada aplikasinya. Ketika mengkategorikan 21 bahan kimia menurut fase pengembangannya, BREW Project menemukan bahwa semua fase telah terwakilkan (ide, kelayakan, skala pilot dan komersialisasi). 

Bahan-bahan kimia yang dijadikan obyek studi diantaranya adalah: Acetic acid, Acetone/Butanol/Ethanol, Acrylamide, Acrylic acid, Adipic acid, Caprolactam, Citric acid, Ethanol, Lactic acid, Lysine, Mono-/Diglycerides, Oleyl oleate, Polyglycerol monoester, Polyhydroxyalkanoates, 1,3-Propanediol dan Succinic acid 

Saat ini, umpan yang potensial untuk sampai skala komersialisasi masih didominasi oleh gugus gula yaitu glukosa, sukrosa dan pati. Namun suatu saat nanti umpan berbasis lignoselulosa yang difermentasi akan bisa menghasilkan glukosa, xylosa dan arabinosa. Mengingat semakin banyaknya gliserol sebagai produk samping produksi biodiesel, gliserol juga memungkinkan sebagai umpan proses fermentasi. Yang terakhir, selain dari penggunaan umpan menggunakan bahan tersebut, White Biotechnology dapat juga menggunakan umpan hasil dari rekayasa tanaman (Green Biotechnology) jika dapat mempunyai sifat-sifat yang lebih baik, lebih murah atau memiliki keuntungan lain. 

Sampai saat ini, gula masih menjadi pilihan utama sumber umpan dari proses white biotechnology. Dengan menggunakan BREWTool, dibuatlah suatu skenario tentang produk turunan gula apakah yang masih layak secara ekonomis dan teknis pada harga gula yang berbeda-beda. Lebih jelasnya dapat dilihat pada table 2 dibawah.
Sugar Price vs Bioproduct

Terlihat dari table diatas bahwa produk-produk tersebut akan menarik diproduksi pada harga gula berkisar 70 – 400 EU/ton. Studi ini menggunakan asumsi harga minyak mentah saat itu pada $25/barel. 

Berdasarkan studi BREW, sekarang negara-negara Eropa sedang giat mengembangkan berbagai proyek untuk menghasilkan produk-produk berbasiskan bio dengan memberikan subsidi kepada Lembaga Penelitian dan Industri yang bekerjasama dalam tahap pengembangan. 

Karena keterbatasan Eropa akan lahan dan sumber daya terbarukan di Eropa, berbagai konsorsium internation juga dibentuk, salah satunya adalah proyek ““High value-added products for the coating and plastics industry from byprod-ucts of biodiesel production by industrial white biotechnology processes”. Proyek ini merupakan kerjasama pemerintah Indonesia dan Jerman untuk mengembangkan bahan kimia baru dari produk samping produksi biodiesel (gliserol) untuk aplikasi di industri coating dan plastik.

Proyek yang dimotori oleh Fraunhofer (www.fraunhofer.de) ditargetkan selesai selama 3 tahun dan menghasilkan teknologi yang siap untuk dikembangkan pada skala komersial. Partner Indonesia yang terlibat dalam proyek ini adalah: BPPT, LIPI dan PT Sumi Asih. Sedangkan dari pihak Jerman adalah Fraunhofer, VTi, BMA, Synthopol dan GLYCTEC.

 

*)Artikel ini dterbitkan untuk Majalah Infokimia, edisi Oktober 2009.

Oktober 21, 2009 - Ditulis oleh trihidayatno | Energi, Lingkungan, Teknik Kimia | | Belum Ada Tanggapan

Belum ada komentar.

Tinggalkan komentar