Life is bitter … so we need sweet coffee
Di Indonesia, hidup sudah begitu pahit, makanya kita butuh secangkir kopi manis
Piye ora pahit? Wong kedelai, gandum, jagung (bibitnya) harus impor dari Amerika. Bagaimana gak berat? Kalau teknologi masih ketinggalan.
Saya pernah ditanya oleh kolega dari Eropa, kenapa kok kamu suka sekali menambahkan banyak gula ke kopimu? Menurut mereka, kopi itu minuman pahit, dan mereka sangat menikmati minuman pahit tersebut. Kalau butuh minuman manis, kenapa gak langsung minum syrup saja?
Begini mas bule, panjenengan belum pernah merasakan hidup disini kok!! Dari pelajaran sejarah waktu sekolah dulu, kita dijajah Eropa selama 300 an tahun (Gak semua daerah tentunya), lalu datang Jepang, terus perang lagi dengan Belanda untuk mempertahankan kemerdekaan. Beda dengan negeri sampeyan, pasti buku sejarah Anda penuh dengan kisah sukses menduduki Asia, Amerika Latin, dan Afrika. Sangat pahit hidup disini…….
Untuk sejenak melepaskan beban hidup yang berat, kopi manis merupakan salah satu minuman yang tepat untuk kemudian kerja keras lagi. Terus kenapa hari gini hidup masih pahit? ….. Negara agraris kok masih impor terigu dan kedelai?
Sebenarnya impor gak apa2 asal harganya murah, karena masih bisa dimungkinkan terjadi surplus perdagangan karena kita meng-ekspor kopi, coklat, sawit, rempah2 (yang saya sebutkan ini tidak akan tumbuh di Cina, India, Eropa, US). Terigu dan kedelai menjadi mahal karena faktor beralihnya lahan ke Jagung untuk bioethanol, dan juga permintaan kedelai dari Eropa untuk biodiesel. Jika sudah begini keadaannya ada langkah yang bisa dilakukan dengan:
1. Jangan pernah kecanduan salah satu makanan saja, karena menurut Teori Darwin, “Yang akan bertahan hidup adalah yang mampu menyesuaikan diri, bukan yang terkuat, bukan yang terpandai”, dan edukasikan ini ke masyarakat.
2. Naikkan harga ekspor sawit, kopi, dan coklat.
3. Kuasai teknologi bibit unggul secepat mungkin. Apa guna government mendirikan perguruan tinggi pertanian di Bogor itu, yang katanya alumninya malah banyak jadi pegawai Bank atau marketing.
Tapi aku yakin, masyarakat miskin desa akan lebih tabah dari yang dikota. Karena masih bisa makan dengan memetik hasil dari kebun belakang rumah. (termasuk orang tuaku)
kali ini tentang teh. minuman yang rasanya aga sepet-sepet ini juga pernah menuai komentar kolega dari cina (nek novendri ngomonge “kapusan”), tentang orang jawa yg menambahkan banyak gula ke dalam tehnya.kurang lebih sama kasusnya..ya mungkin memaeng hidup kita sudah pahit.apakah pengalaman nenek moyang tentang cultuur stelsel,dimana mereka hanya menanam tak pernah merasakan manisnya apa yang mereka tanam menjadi semacam “balas dendam” turun temurun ke anak cucu yang akhirnya menjadi kebiasaan kita?
tapi, kopi dan teh memang sudah milik dunia.bagaimana menikmatinya,itu adalah hak azasi tiap manusia..i prefer teh yang ginasthel..no matter what they say..
Masak suka teh nasgitel, kayaknya didit paling suka Ciu, karena sebagai anggota Pangunci alias Paguyuban Ngunjuk Ciu
wah..wah..tinebihno mas Jo..
iku rak kebiasaan mbah mbah mbiyen
nek saiki senenge yo CIUman jo..
wah..wah..
iki diskusi setahun kepungkur yo
neng aku pengen urung rembug..
nek masalah minuman pilihanku tetep es doggy kotabaru
sg penting sakjane dudu minumane tp pemilihan waktu minume,
nek pengen mangan sego soto yo ojo tuku es teler
(bad memory of Lempuyangan tepatnya di depan bengkel las)
seperti kata mas Tri “nyoh dit..go tumbas es..”
sg luwih kerep go didit = janCIUk
Nek arep dilanjutke diskusine yo rapopo, wong iki blog tidak ada peraturane. Paling enak tetep ngombe Es Milo neng kantin mburi Kali Code